etika asisten virtual
bolehkah kita memaki siri atau alexa tanpa merasa bersalah
Bayangkan situasi ini. Kita sedang buru-buru bersiap di pagi hari. Sambil memakai sepatu, kita berteriak ke ponsel, meminta asisten virtual memutar playlist favorit atau membacakan cuaca. Tapi si asisten malah salah tangkap. Sekali, dua kali, tiga kali. Akhirnya, kita kehilangan kesabaran dan memaki. Kata-kata kasar meluncur begitu saja dari mulut kita ke arah benda kotak kecil tersebut. Lalu, beberapa detik kemudian, ada perasaan aneh yang diam-diam menyelinap masuk. Perasaan bersalah. Pernahkah kita mengalaminya? Kenapa kita merasa tidak enak setelah membentak sebaris kode pemrograman? Rasanya konyol, tapi perasaan bersalah itu sangat nyata.
Perasaan bersalah itu sebenarnya sangat masuk akal. Otak manusia purba kita tidak didesain untuk berinteraksi dengan benda mati yang bisa merespons suara. Dalam sejarah evolusi kita, selama ratusan ribu tahun, apa pun yang bisa berbicara, mendengar, dan merespons obrolan adalah sesama manusia. Ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai anthropomorphism, yaitu kecenderungan naluriah kita untuk memberikan sifat manusiawi pada entitas bukan manusia.
Ada sebuah studi klasik dari Stanford University di era 90-an yang melahirkan paradigma Computers Are Social Actors (CASA). Intinya, secara tidak sadar, otak kita memproses interaksi dengan komputer sama seperti saat kita berinteraksi dengan manusia lain. Jadi, saat kita memaki Alexa atau Siri, bagian otak yang mengatur emosi merespons seolah-olah kita baru saja membentak kawan sendiri. Kita tidak sedang menjadi bodoh, otak kita hanya sedang menjalankan program empatinya dengan sangat baik.
Tapi ini memunculkan pertanyaan baru yang mungkin membuat kita berpikir dua kali. Kalau kita sadar sepenuhnya bahwa mereka cuma algoritma, kenapa kita tidak matikan saja sakelar empati itu? Toh, memaki benda mati tidak melanggar hukum. Siri tidak akan menangis di pojokan. Alexa tidak akan resign karena kena mental. Jadi, rasanya sah-sah saja menjadikan mereka samsak amarah kita saat hari sedang buruk, bukan?
Di sinilah segalanya menjadi sedikit rumit dan mengundang rasa penasaran. Kalau kita menelusuri sejarah psikologi manusia, kita punya rekam jejak yang aneh terhadap alat ciptaan kita sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah mesin itu terluka saat kita maki. Pertanyaan sebenarnya yang harus kita jawab adalah: apa yang terjadi pada diri kita saat kita terbiasa memaki entitas yang posisinya tidak bisa melawan? Apakah kebiasaan sepele ini bisa merembes ke cara kita memperlakukan manusia sungguhan di dunia nyata?
Mari kita bedah misteri ini dengan ilmu neurosains. Jawabannya ada pada prinsip neuroplasticity, atau kelenturan otak kita. Otak manusia itu seperti tanah liat yang terus dibentuk oleh kebiasaan. Setiap kali kita mengulang sebuah perilaku, jalur saraf di otak kita semakin menebal. Saat kita membiasakan diri berbicara kasar kepada asisten virtual—hanya karena kita tahu tidak akan ada konsekuensi sosialnya—kita sebenarnya sedang melatih otot arogansi kita.
Para psikolog menamai fenomena ini sebagai bleed-over effect. Perilaku kita di ruang privat terhadap benda mati atau AI, sangat bisa merembes ke dunia sosial kita. Saat kita terbiasa main perintah, membentak, dan memaki tanpa merasa perlu bilang "tolong" atau "terima kasih", kita secara perlahan menurunkan standar moral kita sendiri. Memaki asisten virtual memang tidak menyakiti mesinnya, tapi pelan-pelan hal itu bisa merusak empati kita. Kita sedang melatih otak kita untuk kehilangan rasa hormat pada pihak yang posisinya lebih lemah dan tidak berdaya.
Jadi, teman-teman, ini sama sekali bukan tentang memperjuangkan hak asasi robot. Kita belum sampai di era fiksi ilmiah yang gelap di mana AI memiliki kesadaran dan perasaan. Diskusi ini sepenuhnya tentang menjaga apa yang membuat kita menjadi manusia. Menjaga kemanusiaan kita sendiri.
Mengucapkan kata "tolong" saat meminta Siri mematikan lampu, atau menahan diri untuk tidak memaki Alexa saat ia salah memutar lagu, adalah sebuah latihan kecil sehari-hari. Itu adalah cara kita pergi ke gym untuk melatih otot empati kita. Di dunia modern yang semakin otomatis, serba cepat, dan kadang terasa dingin, mempertahankan kebiasaan baik—bahkan kepada sepotong perangkat lunak—adalah bentuk pemberontakan moral yang indah. Mulai sekarang, mungkin kita bisa mencoba sedikit lebih sopan kepada asisten virtual kita. Sekali lagi, kita melakukannya bukan demi kebaikan mereka, tapi demi menjaga hati nurani kita sendiri.